Paraben dalam Kosmetik: Haruskah Kita Paranoid?

Kosmetik, menurut Surat Keputusan Kepala Badan POM RI Nomor: HK.00.05.4.1745 adalah bahan atau sediaan yang dimaksudkan untuk digunakan pada bagian luar tubuh manusia (epidermis, rambut, kuku, bibir, dan organ genital bagian luar) atau gigi atau mukosa mulut terutama membersihkan, mewangikan, mengubah penampilan dan atau memperbaiki bau badan atau melindungi atau memelihara tubuh pada kondisi baik.  Sedangkan penggolongan kosmetik berdasarkan Keputusan Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Kosmetik dan Produk Komplemen Nomor: PO.01.04.42.4082 tentang Pedoman   Cara Pendaftaran dan Penilaian Kosmetik, berdasarkan bahan dan penggunaannya serta untuk penilaian, kosmetik dibagi menjadi 2 (dua) golongan, yaitu:

  1. Kosmetik golongan I, adalah: Kosmetik yang digunakan untuk bayi; Kosmetik yang digunakan disekitar mata, rongga mulut dan mukosa lainnya; Kosmetika yang mengandung bahan dengan persyaratan kadar dan penandaan; Kosmetik yang mengandung bahan dan fungsinya belum lazim serta belum diketahui keamanan dan kemanfaatannya.
  2. Kosmetik golongan II adalah kosmetik yang tidak termasuk golongan I

Nah, apa itu Paraben, dan apa hubungannya dengan kosmetik? Paraben digunakan sebagai pengawet (antipreservative) pada produk kosmetik dan farmasi. Paraben membantu mencegah timbulnya jamur dan bakteri, melindungi konsumen, dan menjaga kualitas produk. Dalam istilah kimia, paraben merupakan ester dari p-hydroxybenzoic acid. Jenis paraben yang paling sering digunakan pada produk kosmetik adalah methylparaben, propylparaben, and butylparaben. Salah satu jenis paraben dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar1. Struktur Methyl paraben

Banyak produk perawatan yang mengandung paraben, seperti shampoo, gel cukur, pelumas, farmasi, riasan wajah, losion dan pasta gigi. Dalam kemasan produk, paraben (para-hydroxybenzoate) dapat ditulis dengan nama-nama seperti methylparaben, propylparaben, butylparaben, ethylparaben, 4-hydroxy methyl ester benzoic acid, atau methyl 4-hydroxybenzoate. Menurut Farmakope Indonesia V, adalah hablur kecil, tidak berwarna atau serbuk hablur, putih, mempunyai sedikit rasa terbakar. Yang menjadi pertanyaan adalah, perlu kah kita, sebagai kaum muda terutama kaum wanita yang kesehariannya tidak mungkin terlepas dari kosmetik mengkhawatirkan adanya kandungan Paraben dalam kosmetik yang kita gunakan?

Paraben dulunya dianggap sebagai agen xenoestrogent yang mengimitasi estrogen pada tubuh. Efek buruk estrogen sering dikaitkan dengan masalah pada dada dan regenerasi. Berita ini menyebar pada tahun 1990-an. Setelah itu, para peneliti menyatakan bahwa paraben memiliki efek negatif terhadap kesehatan, terutama kanker. Selain itu, pada tahun 2004 peneliti dari Inggris Philippa Dabre, Ph.D menemukan adanya paraben pada tumor payudara yang berbahaya. Menurut penelitian tersebut, ia menyarankan untuk membatasi kadar paraben pada kosmetik. Hal ini menimbulkan kegemparan dan kerugian bagi perusahaan kosmetik yang menggunakan paraben sebagai pengawet dalam produk kosmetiknya. Masyarakat lalu mulai meninggalkan produk kosmetik dengan paraben karena takut terserang kanker payudara. Padahal, hasil penelitian tim Darbre sendiri tidak pernah menulis kesimpulan bahwa paraben terhubung langsung dengan kanker payudara. Mereka hanya menemukan jejaknya pada 20 sampel, yang sumbernya pun tidak bisa dipastikan apakah berasal dari produk kosmetik atau tidak. Selain menimbulkan kerugian bagi beberapa produsen kosmetik, isu ini menjadi keuntungan bagi beberapa oknum dengan strategi marketing yang langsung mengklaim paraben sebagai kandungan berbahaya dan produk kosmetiknya bebas dari kandungan paraben.  Darbre, sebagai respon terhadap penelitiannya yang disalahgunakan, mengklarifikasi lewat surat yang ia kirim ke Journal of Applied Toxicology:

“Nowhere in the manuscript was any claim made that the presence of parabens had caused the breast cancer, indeed the measurement of a compound in a tissue cannot provide evidence of causality.”(Tidak ada di bagian manuskrip yang mengklaim bahwa adanya paraben akan menyebabkan kanker payudara, memang pengukuran senyawa tersebut di dalam jaringan tidak bisa menyediakan cukup bukti sebab-akibat.)

 

Dalam kosmetik, kandungan paraben yang ada sangat rendah, yaitu hanya sekitar 1%. Semua tentu bergantung pada seberapa banyak jumlah kandungannya, kalau paraben ada di bagian bawah ingredients list, maka bisa dipastikan bahwa konsentrasinya pasti sangat kecil. Satu kekhawatiran sudah terjawab, timbul lagi kekhawatiran lain. “Tapi kan, jika digunakan terus menerus, maka paraben akan mengalami akumulasi dalam tubuh dan kadarnya akan naik serta membahayakan, dong!”. Menurut Skin Inc., situs yang memuat informasi tentang sains dan teknologi di belakang skincare, paraben akan keluar dari tubuh dalam waktu 36 jam. Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa aktivitas estrogen yang ada dalam paraben ternyata 100,000 kali lebih lemah dari estrogen yang diproduksi secara natural dari dalam tubuh. Artinya, untuk bisa menimbulkan efek estrogenik yang berhubungan dengan kanker payudara, dosis paraben dalam kosmetik harus ditambahkan beribu-ribu kali lipat.

Singkat kata, lembaga Food and Drug Administration (FDA) dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tidak mungkin meloloskan suatu produk untuk dijual di pasaran kalau formulanya mengandung bahan kimia yang bisa membahayakan nyawa seseorang. Produk-produk kosmetik ini harus diuji dan melewati serangkaian tes sebelum sampai ke tangan konsumen.

Isu tentang paraben sebagai kandungan berbahaya sudah menjadi lagu lama di industri kecantikan di luar negeri. Kelompok ilmuwan, dermatologis, dan para ahli pun sudah mengkonfirmasi bahwa penelitian Darbre tersebut sudah banyak dilebih-lebihkan dan disalahartikan.

Di Indonesia pun, kalau kamu Googling “zat berbahaya dalam kosmetik”, pasti paraben akan tetap muncul. Masih banyak artikel yang menuliskan “Penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara paraben dengan peningkatan resiko kanker payudara. Ditemukan konsentrasi paraben yang sangat tinggi yaitu 90% pada kasus kanker payudara yang diteliti.” Padahal, dalam surat yang ditulis oleh Darbre, tidak pernah ada informasi tentang konsentrasi paraben sebanyak 90% dan sekali lagi, para peneliti tersebut tidak pernah menulis bahwa paraben terhubung langsung dengan kanker payudara. Efek samping dari paraben hanyalah iritasi, itu pun kalau memang kamu memiliki kulit yang sangat sensitif.

Jika masih merasa was was dan kurang aman dalam pemilihan kosmetik, ada cara mensiasatinya dengan menjadi konsumen produk kosmetik yang cerdas. Cara pertama sebelum membeli produk kosmetik adalah cek KLIK. Cek KLIK artinya cek kemasan, label, izin edar, dan tanggal kedaluwarsa pada kosmetik.

Pertama-tama, cek kemasan dan label produk kosmetik yang kamu beli. Periksa setiap sisinya apakah terdapat kecacatan dan perbedaan dengan kemasan kosmetik yang asli.

Selanjutnya, temukan Nomor Izin Edar (NIE) pada kemasan produk. Kosmetik yang legal dan aman sudah pasti mengantongi izin resmi dari BPOM dan memiliki nomor izin edar tersebut. Artinya, bahan-bahan yang terkandung pun dijamin aman karena sudah diuji terlebih dahulu oleh BPOM. Selain itu, pastikan bahwa nomor izin edar tersebut benar-benar terdaftar pada web resmi BPOM. Sebab, mungkin saja beberapa produk kecantikan hanya sekadar menempel nomor izin edar yang asal-asalan. Jika produk kosmetik yang kamu beli tidak memiliki nomor izin edar maupun tidak benar-benar terdaftar, maka kosmetik tersebut sudah pasti ilegal dan tidak terjamin kandungannya.

Jangan lupa untuk melihat tanggal kedaluwarsa pada label produk. Hal ini sering kali terlewatkan karena kebanyakan orang percaya bahwa setiap kosmetik yang beredar adalah produk baru. Sama seperti makanan, kosmetik yang kedaluwarsa dapat menimbulkan efek samping yang membahayakan kesehatan.

Bagi kamu yang sudah sering membeli kosmetik tentu sudah handal dalam mencoba tester kosmetik. Caranya adalah dengan mengoleskan sedikit produk ke bagian punggung tangan untuk melihat tekstur dan warna, apakah cocok dengan yang kamu cari atau tidak.

Jangan salah, cara ini tidak hanya sekadar mencocokkan produk kosmetik dengan keinginan kamu, lho. Kamu juga bisa memanfaatkannya sebagai salah satu cara memilih produk kosmetik yang aman. Setelah mengoleskan segaris kosmetik di punggung tangan, coba lihat tekstur, warna, dan aromanya.

Mudahnya, kosmetik yang aman tidak menyebabkan iritasi maupun reaksi alergi. Sebaliknya, kosmetik palsu dan mengandung bahan yang berbahaya dapat menimbulkan gejala berupa ruam merah, kulit gatal dan bengkak, hingga sakit kepala, mirip dengan gejala alergi kosmetik. Meski demikian, hal ini biasanya lebih jelas terlihat setelah beberapa kali pemakaian.

2 thoughts on “Paraben dalam Kosmetik: Haruskah Kita Paranoid?

Leave a Reply to Abraham Oliver Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *