Magister Manajemen

Fakultas Ekonomi - Universitas Sanata Dharma

<< WEB FAKULTAS

BERITA

Green Entrepreneurship Training (GET) Se-Kevikepan DIY - Angkatan IX (Hari Ketiga)
26 February 2019
Green Entrepreneurship Training (GET) Se-Kevikepan DIY - Angkatan IX (Hari Ketiga)  :: Magister Manajemen
Green Entrepreneurship Training (GET) angkatan 9 memasuki pelaksanaan hari ketiga.  Sesi pertama diawali dengan materi tentang manajemen keuangan oleh bapak Santoso Tridadi, SE. Dalam kesempatan tersebut, beliau mengajak peserta untuk mengembangkan suatu bisnis yang kompeten. Kondisi dimana bisnis selalu untung akan mendapat aset serta langgeng dalam usaha bisnis. Aset bisa meningkat tanpa usaha sama sekali (utang) dan akan ada beban yang kemudian muncul yang berarti perusahaan tersebut menjadi tidak sehat. Jika aset meningkat belum tentu laba dan profit juga meningkat. Jadi, menurut Bapak Santoso Tridadi, SE. dalam suatu bisnis bukan bagaimana kita membuat keuntungan dalam berbisnis, tetapi bagaimana kita mengolah bisnis tersebut agar menjadi bisnis yang berkembang dan langgeng.
Selain itu sebelum kita memulai suatu bisnis akan lebih baik jika kita membuat fungsi perencanaan, fungsi pengorganisasian, fungsi pengendalian serta fungsi pengawasan yang akan mengoptimalkan sumber daya organisasi untuk mencapai sebuah tujuan. Dengan menggunakan neraca kita akan bisa mengerti bagaimana keadaan keuangan bisnis kita. Neraca itu timbangan, dan timbangan itu harus seimbang. Jika tidak seimbang itu berarti ada kesalahan dalam penginputannya. Terdapat pula pendapatan lan-lain yang dimana pendapatan itu bukan didapat dari usaha kita. Namun, jika ada pendapatan lain-lain maka itu akan menambah laba dalam usaha kita. Jadi disini tujuan manajemen keuangan adalah memaksimalkan profit minimalkan cost.
Pembicara kedua yang mengisi adalah Bapak Robertus Agung Prasetya, SE., MM. Beliau menyampaikan Business Plan yang dimana sebagus-bagusnya Business Plan tidak akan bisa dieksekusi/diolah jika bukan pembuatnya sendiri. Di dalam bisnis jangan pernah mengagungkan uang. Entrepreneurship harus mengalami jatuh dan jangan takut untuk jatuh tetapi berani untuk menghadapi kejatuhan itu.
Apa itu Business Plan? Adalah mimpi yang ditulis oleh diri kita sendiri dimana kita harus merasa memiliki sebuah keahlian dalam memulai suatu bisnis. Karna jika kita mempunyai tujuan tanpa perencanaan itu sama saja hanya sebuah mimpi. Perlunya SWOT adalah untuk mengukur seberapa kemampuan kita. Weakness menjadi Strenght dan Threath menjadi Opportunity. Hal yang harus kita tanamkan dalam diri kita adalah ketika kita menjadi seorang entrepreneur kita harus siap menjadi teladan dan harus mempunyai kreativitas.
Pada sesi ketiga, bapak Agus Susanto, S.Sos., MM. mulai menjelaskan proposal bisnis sebagai sesuatu yang selalu berkaitan dengan laporan keuangan. Potret keuangan secara untuh dalam suatu unit usaha dapat tercermin dalam neraca. Hal itu sangat penting bukan hanya karena membantu dalam pengajuan proposal kredit, melainkan juga mengetahui performa usaha yang dijalankan dan posisi keuangan sejauh ini.
Lebih lanjut, performa unit usaha dalam mencetak laba atau tidak dapat dilihat dengan jelas apabila ada pemisahan antara keuangan usaha dan keuangan pribadi. Ambil gaji dari hasil usaha agar tidak mengganggu unit usaha sehingga mampu melihat dengan jelas performa usaha atau perbandingan laba dari waktu ke waktu. Semua hal yang tergambar dalam neraca ini lah yang kemudian menjadi alat Analisa utama bagi perbankan untuk menyalurkan kredit. Dalam menjalankan usaha, sebenarnya hutang tidak menjadi masalah selama digunakan untuk keperluan yang bersifat produktif.
Sesi terakhir di hari ke-3 Green Entrepreneurship Training (GET) angkatan 9 dibawakan oleh bapak Stephanus Edi Pambudi dengan tema pemasaran online. Setelah sharing pelaku dari para pelaku usaha yang menjadi peserta GET 9, bapak Pambudi menjelaskan yang dimaksud dengan pemasaran online atau digital marketing secara umum. Perkembangan digital marketing ini tidak dapat dihindari dalam dunia bisnis. Cara-cara pemasaran tradisional dinilai terlalu berat karena membutuhkan biaya yang cukup tinggi. Selain itu, gaya hidup konsumen juga berubah cepat ke arah budaya yang serba instan. Kedua hal tersebut setidaknya dapat dijadikan sebagai dasar perubahan arah lini bisnis. Pasar dibawa lebih dekat dengan konsumen sehingga tidak perlu lagi konsumen yang harus menghabiskan waktu dan biaya ekstra untuk mencari kebutuhannya.
Namun, digitalisasi yang memanfaatkan kecerdasan buatan (artificial intelligent) harus diseimbangkan dengan yang manual. Dalam pembentukan kesadaran (awareness) konsumen juga membutuhkan sentuhan non-digital. Sebab, keterampilan (skill) sebagai dasar yang harus dimiliki untuk beradaptasi dengan digitalisasi. Pengelolaan dan pemanfaatan strategi pemasaran online yang tepat akan menciptakan loyalitas konsumen. Alur kerja yang perlu ditekankan dalam menciptakan loyalitas konsumen yaitu menetapkan strategi, mengukur kemampuan (menentukan indikator), dan selalu mengevaluasi proses yang telah berjalan.


Kebersamaan Bpk.Santoso Triadi bersama peserta GET Angkatan IX.


Peserta dengan semangat yang luar biasa masih mengikuti kegiatan sampai hari ketiga :D


Tetap semangat !!!


Latihan membuat laporan keuangan dengan sederhana dulu.


Peran serta peserta yang aktif juga membuat Pembicara GET semangat!!!


Sesi foto bersama yang tidak mungkin terlewatkan ;D




Penulis : Tim Notulen GET Angk. IX
Editor   : Tita

hal. 1  2  3  4  5  ...  22
© 2022 - Magister Manajemen - Fakultas Ekonomi - Universitas Sanata Dharma - Universitas Sanata Dharma Yogyakarta