Fakultas Ekonomi

Fakultas Ekonomi - Universitas Sanata Dharma

 
<< WEB USD

BERITA KEGIATAN

KOLABORASI FE USD - DINAS PARIWISATA: PENDAMPINGAN DESA WISATA - BUDAYA PANDOWOHARJO
F.EKO | 0 24 November 2021
KOLABORASI  FE USD - DINAS PARIWISATA: PENDAMPINGAN DESA WISATA - BUDAYA PANDOWOHARJO ::
Tim dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma berkolaborasi dengan Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta mengadakan pendampingan Desa Wisata dalam kerangka Desa Mandiri Budaya. Kegiatan tersebut berlangsung selama 5 hari yaitu pada tanggal 8-13 November 2021 bertempat di Joglo Desa Wisata Brayut, Kelurahan Pandowoharjo, Kecamatan Sleman, Kabupaten Sleman DIY. Pendampingan ini melibatkan beberapa Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma yaitu Dr. Ike Janita Dewi, Ferrynella Purbalaksana, S.E., M.M., Fransisca Desiana Pranatasari, S.E., M.M., Maria Angela Diva Vilaningrum Wadyatenti, M.Sc, Lucia Kurniawati, S.Pd., M.S.M., Ima Kristina Yulita, M.Sc., Januari Ayu Fridayani, M.M.,  Kristia, M.B.A., Patrick Vivid Adinata, M.Si. dan Drs. Rubiyatno, M.M.
 
Pendampingan ini diikuti oleh sekitar 20 warga masyarakat yang merupakan pengelola desa wisata, desa budaya, desa preneur dan desa prima. Menurut informasi dari Pak Darmadi yang merupakan Ketua Pokdarwis, desa Pandowoharjo memiliki 6 daya tarik wisata yang terdiri dari Brayut, Temon, Pajangan, Palaran dan Karangtanjung.
 
Pada hari pertama peserta diajak untuk memahami konsep Desa Mandiri Budaya yaitu desa yang sejahtera dan tangguh dengan mengkolaborasikan empat potensi yang dimiliki. Potensi tersebut meliputi potensi budaya, potensi wisata, potensi industri kecil, dan potensi peran perempuan. Salah satu potensi yang berhasil digali oleh para peserta adalah ikon kuliner yang terdiri dari gethuk madu, aneka kripik (usus, ikan), legondo (seperti lemper dalamnya pisang), wine pisang klutuk, seruni, jaejung (jahe karangtanjung), dan minke (mint kelor dgn gula stevia) yang merupakan produk dari desa preneur dan desa prima. Bu Mimin selaku pengurus desa prima juga sudah mendapat pelatihan dari BPOM tentang aspek higienitas kuliner. Selain itu, ada juga produk batik yang menggunakan pewarna alami. Sementara itu, dari desa budaya memiliki potensi berupa pertunjukan seni seperti jathilan, karawitan, angklung, bergodo, dan tari.















Pada hari kedua, peserta disadarkan pentingnya sertifikasi CHSE (Cleanlinness, Health, Safety, Environment) bagi desa wisata. Sertifikasi ini bertujuan untuk memberikan jaminan kepada wisatawan terhadap pelaksanaan Kebersihan, Kesehatan, Keselamatan, dan Kelestarian Lingkungan. Selain itu, peserta juga diajak berdinamika dalam kelompok untuk melakukan analisis SWOT guna melihat kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman. Kharakteristik yang menonjol (kekuatan) di Kelurahan Pendowoharjo: lokasi yang strategis, kekompakan antar pengurus, saling mendukung antar dusun, tradisi gotong royong, produk fashion, kerajinan, kuliner terus berkembang, kesenian seperti wayang kulit (ada dalang senior dan yunior) dan jathilan, peninggalan arsitektur seperti pendopo, joglo, dan cagar budaya.

Peserta menyadari bahwa kurangnya SDM dari generasi muda, regenerasi yang kurang berjalan baik, banyak pelaku budaya yang beralih profesi, pergeseran nilai dalam menyikapi budaya lokal serta komitmen yang kurang kuat sebagai bagian dari kelemahan. Beberapa peluang yang bisa dikembangkan antara lain target pasar yang luas yaitu dari PAUD sampai dengan pemerintah dan korporasi, adanya banyak pertemuan yang membuka kesempatan untuk menyediakan catering, kesempatan memajang produk di Pasar Tiban setiap Minggu Legi, kolaborasi antar pilar desa mandiri budaya dan memasarkan produk melalui media sosial. Sedangkan yang dianggap sebagai ancaman antara lain semakin banyak investor dari luar yang ingin menanamkan modal di Pandowoharjo, pencemaran lingkungan, persaingan dengan desa wisata lainnya, dan industrialisasi di sekitar wilayah desa budaya.











Berdasarkan potensi dimiliki oleh masing-masing pilar desa maka pada hari berikutnya peserta diajak untuk praktek membuat paket wisata yang berisi narasi singkat, harga per paket, jumlah minimal peserta, dan rute perjalanan serta lokasinya. Sebelum membuat paket peserta diminta menentukan dulu segmen pasar yang akan dituju. Dalam pembuatan paket wisata ditekankan pentingnya kolaborasi antara desa prima, desa wisata, desa preneur dan desa wisata. Dalam hal ini desa wisata berperan dalam menyediakan pemandu wisata, membuat rundown detail paket wisata, dan memastikan tempat wisata yang layak dikunjungi. Desa budaya berperan untuk menampilkan pertunjukan seni budaya, desa prima menyediakan konsumsi, sedangkan desa preneur menyediakan penginapan dan souvenir. Peserta yang dibagi dalam kelompok berhasil membuat Paket wisata untuk 1 hari.

Pada hari terakhir peserta didampingi untuk menyusun strategi pemasaran yang berfokus pada pemasaran digital. Peserta praktek memposting foto atau video di media sosial Instragam tentang potensi desa Pandowohajo disertai caption yang menarik dan mengajak orang lain untuk datang ke Pandowoharjo, dengan hastag visitingjogja, dolanpandowoharjo, dan sebagainya. Pendamping lalu memilih postingan yang menarik dan sesuai arahan serta memberikan doorprize.

Secara keseluruhan peserta antuasis mengikuti seluruh rangkaian pendampingan selama lima hari. Menurut peserta materi yang disampaikan memberi wawasan baru bagi mereka. Selain itu, proses pendampingan juga mengkombinasikan beberapa metode yaitu ceramah, sharing, diskusi, praktek dan presentasi sehingga peserta dapat berperan lebih aktif selama proses pendampingan.


hal. 1  2  3  
Sekretariat FE USD
Jl. Affandi, Mrican, Sleman, Yogyakarta 55281
Telp: (0274) 513301 ex 51309
Email : fe@usd.ac.id
WA: 081328666553
Media Sosial

        
© 2022 - Fakultas Ekonomi - Universitas Sanata Dharma - Universitas Sanata Dharma Yogyakarta