USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Theo Talk: Pola Asuh Keluarga, Perspektif Teologi dan Psikologi

diupdate: 3 bulan yang lalu




Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma, melalui kanal YouTube Theo Talk menyelenggarakan seminar terkait pola asuh keluarga di masa pandemi dari sudut pandang Teologi dan Psikologi. Acara ini diselenggarakan pada 26 Oktober 2021 dengan tema ‘Pola Asuh Keluarga Katolik Selama Pandemi dalam Perspektif Dokumen Familiaris Consortio-Amoris Laetitia dan Psikologi Keluarga’ yang bertujuan memahami perubahan pola hidup manusia selama masa pandemi, terkhusus pengaruhnya dalam keluarga, serta sikap peduli kepada kesehatan mental terutama pada anak dalam pendidikan.

“Setiap perubahan pasti menuntut adanya sebuah adaptasi ataupun penyesuaian”, ujar Maria Anantasari, selaku dosen Psikologi USD. “Ini contoh yang sering sekali saya sebut-sebut di kelas. Sama-sama patah hati, tapi akhirnya yang satu terpuruk, kemudian depresi. Yang satu lagi malah bisa memaknai, oh baiklah, ternyata, saya belum cukup siap untuk menjalin relasi”, tambahnya.

Psikologi Keluarga
Ananta menjelaskan ketangguhan keluarga menjadi kunci menghadapi krisis kehidupan. Ketangguhan keluarga merupakan hasil interaksi dan pola perilaku positif antar individu dalam keluarga. Semakin banyak pola positif dalam keluarga, semakin tangguh keluarga dalam menghadapi krisis.

Keberfungsian keluarga sebetulnya bukan hanya karena ada orang-orang hebat di dalamnya. Hal ini tidak terjadi karena ada ayah, ibu, dan anak yang tangguh. Lalu, bukan sekadar penjumlahan dari bagiannya, tetapi merupakan sebuah fungsi keterkaitan satu sama lain. “Jadi ini hal yang perlu kita lihat, bapaknya orang hebat, ibunya orang hebat, anaknya juga, tapi kok pecah yah keluarganya? Itulah dia orang hebat berkumpul tidak berarti dia adalah keluarga. Jadi, kalau memang keberfungsian keluarga itu berarti ada sebuah fungsi. Fungsi ini muncul dari keterkaitan antar bagian. Sehingga, apabila satu bagian dari fungsi ini terkena suatu persoalan, biasanya yang lain juga terganggu”, jelasnya.

Ananta juga menyebut, keluarga yang tangguh akan selalu siap dengan komitmennya. Kemudian mereka akan bersama-sama memandang sebuah ujian kehidupan sebagai tantangan yang menumbuhkan. “Di situ letak kekuatannya ada pasangan ayah-ibu yang saling membantu dengan cara yang tidak ditambahkan, tetapi saling-saling. Ketika ayah-ibu itu kuat, maka kokoh dan muncullah pengasuhan positif. Rangkul hati anak-anak, nanti segalanya akan jadi lebih baik. Kemudian, ketika pasangan itu kompak, maka pengasuhan anak bisa berjalan dengan baik. Sehingga nanti tumbuh menjadi keluarga yang lebih berkualitas”, tambahnya.

Moralitas Pola Asuh
“Bagaimana kita bisa mencintai tanpa kita dicintai dulu? Terutama dicintai oleh cinta yang lebih besar. Kita perlu menyadari bahwa keluarga adalah persekutuan cinta kasih itu sendiri. Jadi, persekutuan antara pribadi-pribadi yang di dalamnya itu, cinta mendapat porsi yang besar dan anak-anak itu turun dan muncul karena karunia”, ucap Bagas, selaku penanggap dalam perspektif Teologi.

Lebih lanjut, Bagas memaparkan pola asuh melalui perspektif dokumen Familiaris Consortio dan Amoris Laetitia, yang mengartikan anak itu adalah karunia dari Tuhan, dan perlunya pengertian pendidikan moral. “Kita tidak mungkin mencintai diri kita sendiri tanpa pertama-tama Tuhan mencintai kita”, ungkapnya. Perihal pendidikan moral, anak-anak akan meniru perilaku orang tua seiring pertumbuhannya. Maka, orang tua dituntut untuk mewariskan iman sebagaimana janji perkawinan dan meneruskan iman tersebut kepada anak. “Keluarga kita itu tidak sempurna, tapi kita bersama menanggung kerapuhan dan mengapresiasi kelebihan. Maka, melatih pengampunan merupakan jalan untuk juga membuat kita sehat secara emosional dan terus menghidupi kelangsungan hidup rohani kita dalam keluarga”, tambahnya.

“Saat terjadi krisis, kita mengatakan ‘God, I have a big stress’.Setelah kita berbincang-bincang, kita reframe sesuatu yang baru ‘Hi stress, I have a big God’. Kita menjadi keluarga tangguh yang bertumbuh”, tutur Ananta.

(JCLA & ERDW)

  kembali