USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

USD Bersama Dinkes Sleman Gelar Vaksinasi Tahap Pertama

diupdate: 4 minggu yang lalu






Sabtu (17/4) pukul 08.00 WIB-selesai, Universitas Sanata Dharma (USD) menjadi tempat pelayanan pemberian vaksinasi COVID-19 tahap 1 oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman (Dinkes Sleman), Yogyakarta. Dinkes Sleman menyediakan 1300 vaksin jenis sinovac ditujukan bagi lansia dan semua orang yang bekerja di USD. Drs. Aufridus Atmadi, M.Si., selaku Ketua Tim Kesehatan sekaligus Wakil Rektor II USD menyatakan bahwa tujuan kegiatan vaksinasi tahap pertama ini diselenggarakan untuk menghambat persebaran virus COVID-19 di lingkungan USD. “Untuk saat ini, karena vaksinasi masih bersifat terbatas, maka USD mengupayakan agar Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dapat terlaksana secara luar jaringan (luring) atau tatap muka", tuturnya.  Dinkes Sleman yang diwakili oleh Ketua Bidang Pencegahaan dan Pengendalian Penyakit (P2P), dr. Novita Krisnaeni, M.Ph. juga memiliki tujuan yang sama yaitu untuk tercapainya herd immunity. “Saat ini, masyarakat Kabupaten Sleman sebanyak 70% sudah divaksin dan diharapkan mampu untuk melindungi seluruh masyarakat yang ada di Sleman dan penyebaran COVID-19 bisa dicegah”, ujar dokter Novi.

Adapun alur pelayanan vaksinasi di USD dibagi menjadi 5 bagian yang terdiri dari meja 0 sampai 4. Meja 0 adalah alur pertama ketika petugas mengecek data sasaran penerima vaksin sudah terdaftar dalam daftarvaksin.slemankab.go.id atau belum kemudian petugas mengukur tensi dan suhu tubuh sasaran vaksin. Meja 1 adalah bagian pendaftaran, petugas memverifikasi data sasaran vaksin dengan e-KTP. Verifikasi data ini menggunakan aplikasi PCare. Kemudian, Meja 2 berfungsi sebagai skrining. Di tahap skrining ini petugas kesehatan melakukan anamnesa dan pemeriksaan fisik sederhana untuk melihat kondisi kesehatan dan mengidentifikasi kondisi penyerta (komorbid). Sasaran yang dinyatakan layak divaksinasi akan mengisi informed consent. Tahap selanjutnya adalah Meja 3 yaitu Vaksinasi. Petugas memberikan vaksinasi secara intra muscular sesuai penyuntikan aman. Dalam tahap ini, petugas memasukkan nama vaksin dan nomor batch vaksin yang diberikan kepada sasaran pada aplikasi PCare. Setelah melakukan vaksinasi, sasaran vaksinasi melanjutkan ke Meja 4. Meja 4 berfungsi untuk pencatatan dan observasi. Pada tahap ini, petugas mencatat hasil pelayanan vaksinasi ke dalam aplikasi PCare dan sasaran diobservasi selama 30 menit untuk memonitor kemungkinan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI). Petugas memberikan penyuluhan tentang 3M dan vaksinasi Covid-19. “Pelayanan vaksinasi di USD ini, Meja 0, 1, dan 4 dibantu oleh Staf dari USD sedangkan Meja 2 dan Meja 3 oleh Tenaga Kesehatan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman”, ujar Pak Atmadi.

Ada beberapa syarat yang harus diketahui oleh sasaran vaksinasi saat melakukan vaksinasi COVID-19, bahwa sasaran vaksinasi harus dalam keadaan sehat, tidak memiliki komorbid berat, tidak sedang mengonsumsi obat dalam jangka panjang, tidak sedang hamil, tensi dalam batas normal, dan berumur 18 tahun ke atas. “Jika tidak memenuhi kriteria, contohnya seperti tensi tinggi, maka pemberian vaksin ditunda”, ujar dokter Novi. Pemberian vaksin COVID-19 juga diperkenankan bagi penyintas COVID-19. Dokter Novi menegaskan bahwa 3 bulan setelah pulih, penyintas COVID-19 baru diperbolehkan menerima vaksinasi. Setelah melakukan vaksinasi COVID-19, penerima vaksinasi ini bisa mengalami gejala atau efek samping. Gejala yang muncul biasanya penerima akan merasa lapar, mengantuk, dan lemas. Jika dalam kondisi parah, penerima bisa merasakan gatal di seluruh tubuh. Dokter Novi juga menyatakan bahwa vaksinasi tahap pertama ini belum membentuk antibodi yang optimal. Apabila terdapat gejala setelah vaksin tahap pertama, tidak disarankan untuk melanjutkan ke vaksinasi tahap kedua. “Pemberian Vaksin tidak 100% dapat membuat tubuh kebal dari COVID-19. Apabila masyarakat yang sudah divaksin mengalami positif COVID-19, pengaruhnya bukan dari vaksin itu sendiri tetapi karena dia tertular”, tutur dokter Novi. Masyarakat yang sudah menerima vaksin diharapkan untuk tetap menerapkan protokol kesehatan karena dalam tahap pertama ini, tubuh masih membentuk antibodi sehingga kekebalan tubuh belum optimal dan ketika sudah 28 hari akan turun lagi, dan harus segera divaksin lagi untuk membentuk kekebalan yang optimal.

Penerima vaksinaksi COVID-19 mengaku merasa khawatir, was-was maupun deg-degan sebelum menerima vaksin COVID-19 ini, kondisi seperti ini dialami oleh Deosi Yudha Permana, S.T. sebagai pegawai Biro Prasarana dan Sarana (BPS) USD sehingga perlu pemeriksaan tensi sebanyak 2 kali. Perasaan khawatir apabila bertemu dengan orang lain juga dialami oleh Agnes Triyana sebagai pegawai purnakarya yang memiliki komorbid. Tenaga kebersihan, mbak Nini juga menyatakan rasa was-wasnya karena belum paham mengenai vaksin COVID-19. Para penerima vaksin merasa lega dan lebih tenang setelah menerima vaksinasi dan berharap setelah pemberian vaksin ini imun mereka lebih terjaga. Fendika Aji Prawesma, S.Pd., M.Ed. sebagai dosen di USD berharap bahwa pandemi ini segera mereda sehingga proses pembelajaran dapat dilakukan secara langsung. “Saya rindu mengajar mahasiswa secara luring karena akan lebih interaktif dan bisa memantau perkembangan mahasiswa secara langsung”, ujar Pak Fendika.

(MHH & BF)

  kembali